Berperang, berkerja dan berkarya

Kukuh T Wicaksono
3 min readJan 15, 2024

Ketika kehidupan terpaut oleh bayang-bayang peperangan, ratusan generasi hidup dalam keprihatinan dan perjuangan. Abad pertengahan bukanlah zaman yang lemah atau damai, melainkan rentetan waktu yang dipenuhi dengan medan perang, senjata tajam, dan pertempuran yang kejam. Bagi mereka, berperang adalah panggilan tak terelakkan yang melibatkan hampir semua aspek kehidupan mereka, sejak lahir hingga akhir hayat.Setiap individu tumbuh dalam atmosfer ketegangan dan kebimbangan. Seni bela diri, strategi perang, dan keterampilan bertahan hidup di medan tempur menjadi bahasa asli yang harus dikuasai sejak dini. Meskipun berperang dalam nama dewa, tuhan, atau pemimpin merdeka, realitasnya terkadang tidak terhindarkan — yaitu untuk bertahan hidup dan mempertahankan kedaulatan.

Bagi kelompok suku yang tidak berafiliasi dengan kerajaan sekitar, hidup di luar wilayah negara adalah tantangan tersendiri. Mereka harus menavigasi dunia yang keras dan tak kenal ampun, dihadapkan pada ancaman dari kelompok lain, hewan buas, dan lingkungan yang tidak ramah. Meski tanpa perlindungan kerajaan, kelompok suku ini tetap hidup dengan semangat kemerdekaan, mempertahankan identitas dan tradisi mereka.Generasi demi generasi, keberanian dan keterampilan berperang diturunkan sebagai warisan berharga. Cerita epik perang dan kepahlawanan mengalir di dalam darah mereka, membentuk dasar dari identitas dan keberlanjutan kelompok suku. Melalui pertempuran yang tidak kenal lelah, mereka membangun kisah hidup yang penuh dengan pengorbanan, keberanian, dan solidaritas.

Namun, seperti yang terjadi dalam kehidupan, tidak semua rintangan dapat diatasi. Meskipun dihadapkan pada kehidupan yang keras dan berbahaya, kelompok suku ini memiliki kebijaksanaan untuk memahami bahwa perdamaian dapat menjadi pilihan yang berharga. Perlahan tapi pasti, keturunan mereka menemukan cara untuk mengembangkan masyarakat mereka, menyeimbangkan warisan berperang mereka dengan keinginan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.Seiring berjalannya waktu, kehidupan di abad pertengahan memberikan hikmah kepada generasi berikutnya.

Pengalaman dan kebijaksanaan di perang membentuk pandangan hidup yang berharga, dan meskipun perjuangan terus berlanjut, semangat mereka yang tak tergoyahkan memberikan inspirasi bagi keturunan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.Berperang adalah hal yang natural/wajar pada saat itu.Pada tahun 2000-an, hidup dianggap sebagai periode yang memprihatinkan bagi keturunan kita yang hidup 100 tahun setelahnya.

Manusia pada masa itu dipandang sebagai makhluk yang terjebak dalam rutinitas bekerja untuk mempertahankan hidup, dengan bekerja dianggap sebagai hal yang wajar dan diterima sebagai bagian tak terhindarkan dari kehidupan sehari-hari.Namun, keturunan kita yang hidup di masa depan, sekitar 100 hingga 200 tahun dari sekarang, akan menuliskan sejarah baru tentang perubahan revolusioner yang terjadi. Mereka mungkin mencatat bahwa hidup di awal abad ke-21 adalah awal dari transformasi besar menuju masyarakat di mana bekerja dan berkarya diartikan dengan cara yang berbeda.Pada masa itu, konsep bekerja telah berubah menjadi berkarya.

Manusia tidak lagi terjebak dalam rutinitas bekerja tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sebaliknya, mereka diberdayakan untuk berkarya, menciptakan hal-hal baru yang bermanfaat bagi peradaban dan memajukan keberlanjutan lingkungan.Pergeseran ini mungkin terjadi berkat kemajuan teknologi yang membantu mengotomatisasi tugas-tugas rutin, membebaskan manusia dari pekerjaan monoton. Dengan demikian, manusia dapat fokus pada kegiatan kreatif, penelitian, inovasi, dan pengembangan ide-ide baru. Keturunan kita mungkin menuliskan bahwa pada saat itu, kehidupan diisi dengan semangat berkarya, kreativitas, dan tujuan yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan eksistensi.

Kisah hidup di awal abad ke-21 akan menjadi landasan yang membentuk masyarakat maju dan harmonis di masa depan. Mereka mungkin menemukan inspirasi dari tantangan dan perubahan yang terjadi pada zaman kita, menghargai pergeseran budaya menuju hidup yang lebih bermakna dan produktif.

--

--